Agar anak usia dini Percaya Diri

anak percaya diri anak yang percaya diri

Kebiasaan orangtua membentak anaknya ketika anaknya berbuat nakal akan membuat anak takut untuk kembali beraktivitas serupa. Anak akan cenderung penakut, tidak mempunyai rasa percaya diri.
Anak-anak yang tidak mandiri akan memberi pengaruh negatif terhadap perkembangan kepribadiannya sendiri. Apabila hal ini tidak segera diatasi, anak akan mengalami kesulitan pada perkembangan selanjutnya. Anak akan mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Terlebih, anak yang tidak mandiri juga akan menyusahkan orang lain.

Anak-anak yang tidak mandiri cenderung tidak percaya diri dan tidak mampu mengambil keputusan dengan baik. Sedangkan bentuk ketergantungan kepada orang lain dapat berupa; misalnya mulai dari persiapan berangkat sekolah, ketika di lingkungan sekolah, mengerjakan pekerjaan rumah, sampai dalam pola belajarnya. Dalam persiapan berangkat sekolah, misalnya, anak selalu ingin dimandikan orang lain, dibantu berpakaian, minta disuapi, disiapkan buku dan peralatan sekolah oleh orang lain, termasuk harus selalu diantar ke sekolah. Ketika belajar di rumah, mereka mungkin mau, asalkan semua dilayani; misalnya anak akan menyuruh orang lain untuk mengambilkan pensil, buku, serutan dan sebagainya.

Beberapa hal umum yang perlu dihindari agar proses menuju kemandirian anak dapat berlangsung sesuai yang kita harapkan adalah:

Kekhawatiran yang berlebihan terhadap anak.

Saat anak ingin memegang gelas, sendok, atau peralatan makan, sebenarnya sudah menjadi petunjuk gejala mandiri. Sayangnya, orangtua atau pengasuh kadangkala suka melarang anak melakukan hal tersebut. Banyak alasan atas larangan itu, misalnya, karena khawatir benda yang dipegang anak akan jatuh. Tanpa disadari, larangan itu justru menghambat kesempatan anak untuk belajar mandiri.

Overprotective. Tak sedikit orangtua yang takut bila anaknya yang berusia batita melakukan hal-hal tertentu. Saat anak ingin naik-turun tangga sendiri, kerap tidak diperbolehkan, bahkan langsung digendong. Akibatnya, anak jadi penakut dan tak mampu mengontrol diri sendiri. Tak ada salahnya memperbolehkan anak naik-turun tangga sendiri, tentunya dengan diawasi dan dijaga oleh orangtua maupun pengasuhnya. Setiap anak mampu mengukur, seberapa jauh ia dapat mengontrol diri sendiri. Saat berada di ketinggian tertentu, anak mempunyai insting dasar untuk bertahan dan tidak melompat. Biarkan anak melakukan hal yang diinginkannya, tetapi tetap harus diawasi.

Kasih sayang yang berlebihan. Apapun keinginan anak dipenuhi dan dilayani. Curahan kasih sayang dengan menjadikan anak sebagai tuan kecil dalam rumah merupakan penyebab anak menjadi tidak mandiri dan manja. Tetapi, tidak ada kata terlambat untuk melatih anak menjadi mandiri. Asalkan ada kesempatan bagi anak untuk menunjukkan perilaku mandirinya. Hanya saja, akan semakin sulit manakala usia anak makin bertambah karena sebelumnya anak selalu bergantung pada orangtua dan pengasuhnya. Anak akan menuntut untuk terus dilayani, diperhatikan, hingga akhirnya sulit diubah.

Membuat peraturan yang tegas dan konsekuen memang sulit karena setiap anak yang berbeda usia pasti mempunyai karakter yang berbeda. Saat berada di mal, kebanyakan anak balita akan meronta – ronta ingin keluar dari kereta dorongnya. Namun, masih saja kita temukan seorang anak berusia 4 tahun yang masih memeluk selimut kesayangannya dan membawanya kemanapun ia pergi. Selama tingkat kebebasan yang kita berikan sesuai dengan usia, situasi, dan keamanan, hal itu tidak akan menjadi masalah.

1.

ips – tips berikut berguna untuk memastikan agar kemandirian anak dapat tercapai dengan mudah, bagi anak maupun orang tua.

Mainan Kesayangan

Kita mungkin menyukai benda-benda kesayangan si kecil. Tetapi sesungguhnya benda itu dapat menjadi pengganggu sekaligus penyelamat ketika si kecil rewel dalam perjalanan. Kita mungkin tidak pernah memahami mengapa si kecil amat menyayangi benda-benda tersebut, tetapi kita dapat mencoba. Michelle menyarankan kita untuk meninjau kembali alasan kita saat berusaha memisahkan si kecil dari benda kesayangannya. Apakah kita melakukannya untuk kebaikan si kecil atau karena kita merasa tidak nyaman atas kehadiran benda tersebut?

Jika bisa, sebaiknya kita mencari tahu apa yang membuat suatu mainan begitu menarik hati anak kita. Michelle menyatakan bahwa kita pasti telah mempunyai terkaan-terkaan alasan si kecil begitu menyayangi benda kesayangannya. Tapi itu belum tentu benar! Beberapa anak tidak dapat menjelaskan daya tarik benda kesayangan mereka. Namun, jika dapat diketahui alasan mereka, mungkin kita dapat mencari penggantinya dan bisa mengakhiri ketergantungannya.

Kita hanya akan memperburuk keadaan bila memaksa anak menyerahkan benda kesayangannya. Apabila kita memang memutuskan untuk mengambil benda kesayangannya, Michelle menyarankan kita untuk berhati-hati. Menurut Michelle sebaiknya kita membuat batasan – batasan yang realistis kapan dan dimana anak itu boleh atau tidak boleh membawa benda tersebut. Dan jangan lupa untuk meyakinkan anak bahwa benda kesayangannya akan aman di tempat semestinya dan akan tetap berada di sana hingga ia pulang.

Botol Susu

Anak-anak yang masih ‘ngedot’ pada usia di atas dua tahun kemungkinan hanya menggunakannya sebagai pemberi rasa nyaman daripada sebagai sumber nutrisi. Sangatlah sulit meminta anak menghentikan kebiasaan itu karena botol susu sudah menjadi benda kesayangan dan suatu kebiasaan. Kita pasti telah berusaha menggunakan berbagai cara untuk mengatasinya. Namun cara apapun yang kita gunakan pasti akan memakan waktu. Michelle mengingatkan kita seperti perkataan para ahli bahwa ‘ngedot’ terlalu lama dapat merusak bentuk mulut dan gigi anak terutama pada usia 3 atau 4 tahun.

Jika memungkinkan, Michelle menyarankan kita untuk mencoba minta si kecil berhenti minum susu dari botol sejak usia dini (1-2 tahun). Anak berusia satu tahun sudah dapat memegang gelas kecil tertutup, bahkan beberapa anak sudah mulai bisa minum dengan cara menyedot. Banyak pengalaman orang tua yang berhasil menggunakan sedotan sebagai alternatif yang mengasyikkan bagi si kecil. Karena setelah si kecil berhasil menggunakan sedotan itu, ia jadi bisa mulai meninggalkan botol susunya.

Jika anak telah berusia sekitar 2-4 tahun, anda dapat menggunakan cara penjelasan langsung bahwa ia sudah semakin besar dan sudah waktunya ia minum dari gelas seperti ayah dan ibunya. Beberapa akan mengerti, tetapi beberapa pasti menolak. Apabila ia menolak cobalah gunakan cara barter. Tanya pada anak anda benda lain yang ia inginkan untuk ditukar dengan botol susunya.

Mengerjakan Sendiri

Bayi lucu kita tiba-tiba berubah menjadi balita sok tahu. Walaupun ingin mendorong si kecil untuk mandiri, kita tidak bisa mengabaikan hal-hal tertentu yang masih belum bisa ia lakukan. Michelle menguraikan pertanyaan terbesar dalam masalah ini. Yakni bagaimana kita mendorong kemandirian anak, tetapi tetap menegaskan peran sebagai orang tuanya? Inilah waktu yang tepat untuk menanamkan rasa percaya diri pada anak. Michelle menyarankan kita unuk menunjukkan bahwa kita yakin akan kemampuannya atau hal-hal yang hampir ia kuasai. Hal ini dapat menjadi persiapan masa sekolah dan sosialisasi dengan teman sebayanya.

Untuk anak usia 1-4 tahun, sebaiknya jangan ditolong setiap saat. Memang kadang kita merasa tidak tahan untuk segera membantunya. Tapi Michelle menguraikan penjelasannya bahwa sebaiknya kita membiarkannya namun tetap memberitahunya bahwa kita selalu ada ketika ia butuh bantuan. Hal penting yang perlu diingat ketika kita membiarkan anak mencoba melakukan suatu hal adalah jangan sampai kita marah atau mengatakan kepadanya bahwa yang ia lakukan itu salah ketika anak kita gagal melakukan sesuatu itu sendiri. Misalnya ia menumpahkan gelas ketika ia menuang minuman ke gelas. Kita harus senantiasa menghargai kemandiriannya. Kesalahan adalah pelajaran berharga bagi anak untuk meningkatkan rasa percaya dirinya. Michelle menegaskan agar kita tidak menggunakan kalimat yang memojokkan perasaan anak. Namun sebaiknya kita menggunakan kalimat yang terdengar seperti saran atau alternative lain bagi anak. Dengan demikian, rasa percaya dirinya tidak akan luntur dan ia akan memahami bahwa kadang-kadang melakukan kesalahan adalah hal biasa.

Sekolah

Saat pertama kali masuk sekolah dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan atau yang menakutkan, baik bagi orang tua maupun anak. Apalagi ketika sampai di sekolah ia berteriak dan menangis sambil memanggil-manggil kita saat kita meninggalkannya. Michelle menyarankan kita untuk menjelaskan terlebih dulu pada si kecil mengenai hal-hal yang akan terjadi agar ia mengetahui seperti apa sekolah itu. Jelaskan dengan rinci apa yang akan ia lakukan sepanjang hari di Kelompok Bermain atau Taman Kanak-Kanak. Kita juga bisa menjelaskan hal-hal seperti makan, minum, beristirahat, dan buang air agar si kecil mengerti bahwa kebutuhan dasarnya dapat dilakukan di sana.

Michelle juga memberikan tips – tips lain seperti membawa si kecil datang lebih awal ketika pertama kali ke sekolah. Sehingga kita tidak terburu-buru meninggalkannya dan dapat meluangkan waktu sejenak untuk memberikan informasi penting mengenai anak kita kepada guru-gurunya. Berilah batas waktu pada anak kapan kita akan meninggalkannya. Misalnya ketika bel telah berbunyi.

Selain yang telah diuraikan di atas, juga banyak permasalahan-permasalahn lain yang di uraikan oleh Michelle dalam buku ini. Seperti empeng, menghisap jempol, di luar rumah, hari libur bagi ibu dan apron-string syndrome. Dalam buku ini, kita orang tua, di ingatkan untuk senantiasa sabar dan ingat bahwa suatu hari nanti, anak kita akan terlepas dari kita dan harus mandiri. Jadi, nikmatilah kemanjaan anak kita selagi bisa. Dan dapat sukses melaksanakan tujuan utama kita membesarkan anak, yakni mepersiapkan dia untuk mandiri ketika ia hidup sendiri jauh dari orangtua kelak.

One response to “Agar anak usia dini Percaya Diri

  1. Niki mbake Srumbunge pundi to? Nek kulo Kronggahan…….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s