Pola asuh anak usia dini otoriter

Pola asuh orangtua terhadap anaknya secara Otoriter tidak mutlak benar.Karena Tak sabar dengan kenakalan si buah hati, banyak orangtua menggunakan cara kekerasan untuk menanganinya. Dalam jangka pendek, cara ini efektif, tetapi efek jangka panjangnya anak akan menjadi kasar.
Si kecil Boni 5 th, menangis di depan pintu rumahnya. Air matanya mengalir seakan tanpa henti. Sesekali dia memanggil ibu dan ayahnya agar membukakan pintu untuknya. Namun, suaranya tidak digubris sama sekali. Hampir satu jam Boni berdiri, setelah kemudian pintu rumahnya terbuka. Sang ayah menyuruhnya masuk. Namun, tetap dengan wajah garang yang masih menyisakan kemarahan.

Apa yang dilakukan Boni sehingga orangtuanya sangat marah? Ternyata Boni bermain bola di dalam rumah, hingga memecahkan keramik kesayangan ibunya. Akhirnya Boni mendapat sebuah pukulan dan dibiarkan diam di depan pintu rumah selama lebih dari satu jam.
Sebagai orangtua, marah kepada anak memang merupakan hal yang lumrah. Namun, jika telah disertai dengan pemukulan, apalagi sering dilakukan, akan berdampak buruk pada perkembangan mental anak dan akan membekas hingga mereka dewasa nanti. Di Indonesia, memukul atau melakukan kekerasan fisik kepada anak yang berbuat salah, masih dianggap wajar dan normal-normal saja.Padahal menghukum anak bisa dilakukan dengan cara lain, misalnya dengan memotong uang saku,tidak diperbolehkan main game atau melarang mereka bermain dengan teman-temannya.Walaupun masih anak-anak, jika dipukul anak, akan merasa harga dirinya terlukai. Apalagi jika sering dipukul, anak akan tumbuh menjadi sosok yang cenderung pendiam.Tetapi ketika dia disekolahkan, anak cenderung akan menunjukkan siapa dirinya sesungguhnya yang ingin diperhatikan tetapi dengan cara menonjolkan kenakalannya,memukul temannya,sehingga teman-temannya takut bermain dengannya.Ini artinya anak tidak mau diperlakukan sama ketika dia berada di rumah.

Setelah memberikan peringatan tentang kapan harus dimulai pekerjaannya, berikan petunjuk tegas, jika ia mematuhi perintah, pujilah. Jika tidak mematuhi, ulangi petunjuk yang sama. Jika diberikan petunjuk yang sama pun anak tidak mematuhi, acuhkan dulu sementara, dan tunggulah. Jika selama didiamkan dia mulai mengerjakan, segera berikan pujian. Jika selama didiamkan dia tidak mengerjakan, lakukan langkah berikutnya, yaitu menyetrap atau dikenal dengan istilah time out.

Time out adalah hukuman yang bisa diterapkan pada usia 3 tahun sampai usia kelas rendah SD, pada jangka waktu tertentu, anak harus berada di tempat tertentu. Diberlakukan saat anak melakukan hal yang sulit dimaafkan. Jangka waktu tertentu itu yakni secara umum, sama dengan usia anak. Misalnya pada usia 3 tahun, 3 menit. Usia 5 tahun,5 menit.

“Pasanglah timer di ruang time out. Jika anak berhasil melaluinya, jangan sungkan-sungkan memuji,” tutur psikolog berjilbab tersebut.

Lebih lanjut ditambahkannya, anak-anak sebenarnya adalah jiwa yang juga memiliki naluri untuk melakukan sesuatu dengan benar, baik dan sesuai dengan apa yang diharapkan orangtua. Namun, cara orangtua yang salah dalam menerapkan pendidikan di rumah, terkadang membuat anak tidak terkendali. “Ketegasan kadang sangat dibutuhkan. Orangtua boleh tegas pada anak asalkan jangan memukul,” kata dia lagi.Anak-anak yang sering mendapatkan hukuman fisik di rumah, ketika berada di sekolah akan terlihat sangat berbeda dibandingkan dengan anak lain. “Mereka cenderung murung namun bisa agresif bila tersinggung atau ingin mendapatkan benda yang mereka inginkan, mereka juga lebih egois”.

Memang untuk mendidik anak tanpa kekerasan, butuh usaha keras dan harus dilakukan secara benar. Mendidik tanpa kekerasan bukan berarti anak dibiarkan begitu saja bila melakukan kesalahan. Penegakan disiplin sangat penting bagi anak-anak. Malah tak ada pembedaan antara laki-laki dan perempuan. Untuk menegakkan disiplin, pemberian sanksi mutlak diberikan. Hanya saja, pilih cara yang baik dan jangan gunakan kekerasan.

pola asuh otoriter

One response to “Pola asuh anak usia dini otoriter

  1. setuju,hal ini sangat berhubungan dengan kehidupan pribadi yang saya alami, karena waktu saya masih duduk dibangku TK saya sangat agresif sekali terhadap teman2X saya dan saya cenderung senang menyakiti orang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s