Memberi Kasih sayang Dan ikatan emosional untuk anak

12 12 2009

Anak sangat membutuhkan kasih sayang penuh dari orangtuanya.Setiap orangtua pasti menginginkan anak-anak mereka tumbuh menjadi anak yang baik atau mengerti kesulitan orang lain. Untuk memiliki anak dengan sifat tersebut, ternyata membutuhkan waktu dan pendidikan dari orang tua.Kasih sayang itu adalah rasa peduli terhadap sesama. Langkah-langkah awal yang harus ditanamkan orangtua untuk menanamkan dan membangun munculnya rasa sayang terhadap sesama, menurut Wijaryanto, adalah dimulai dengan memberikan kasih sayang yang cukup pada anak.

Membuat anak merasa disayangi merupakan salah satu cara terbaik bagi orangtua dalam membangun munculnya rasa menyayangi orang lain.

“Anak yang disayang orangtuanya cenderung akan menyayangi anak lain. Sebaliknya, anak yang ditolak akan bersikap agresif, kurang mempunyai rasa sayang,” terang dia.

Selanjutnya,anak akan merasa dicintai jika melihat orangtua, guru, atau pendidik lainnya merasa senang atas kehadirannya. Misalnya ketika dia masuk dalam ruangan disambut dengan senyum.

“Bahkan, anak akan merasa dicintai kalau kita peka terhadap kebutuhannya. Seorang anak akan tahu bahwa dia dicintai jika kesuksesannya membuat kita bersuka dan kegagalannya membuat kita berduka,” tuturnya.

Rasa sayang yang berlimpah dari orangtua secara otomatis membuat anak memahami soal rasa itu. Si kecil juga merasakan bagaimana nyamannya disayangi dan menyayangi. Juahi sikap kekerasan dalam keluarga, karena ini juga berdampak terhadap sikap anak nantinya.

Kekerasan yang sering dilihatnya akan memengaruhinya dan mencontoh perbuatan tersebut. Alhasil anak pun susah menyayangi sesama.(Koran SI/Koran SI/nsa)sumber:okezone.com
komunikasi yang efektif merupakan salah satu cara terbaik.Setiap orangtua pasti ingin memiliki ikatan emosional yang kuat dengan anaknya. Komunikasi yang dilakukan bisa dengan mengajaknya berbicara dalam suasana menyenangkan sehingga akan memacu si kecil untuk mengembangkan kemampuan komunikasi verbalnya. Saat anak mulai berinteraksi dengan teman sebayanya, maka waktu yang dihabiskan bersama keluarga menjadi lebih sedikit sehingga ikatan emosi dengan orangtua berkurang.





Melatih anak supaya cerdas

11 12 2009

BAGAIMANA musik mempengaruhi otak bayi? Proses pengenalan musik akan melibatkan banyak daerah di otak. Di otak terdapat pusat asosiasi penglihatan dan pendengaran yang berfungsi mengartikan obyek yang dilihat dan didengar. Informasi dari pusat yang berada di permukaan otak tersebut akan diteruskan ke pusat emosi yang diatur di dalam sistem limbic.Musik tidak cuma merupakan materi hiburan yang memanjakan telinga. Alunan suara yang berirama ini bisa dimanfaatkan untuk merangsang janin agar kelak menjadi anak cerdas dan kreatif. Bahkan musik bisa dipakai untuk memutar janin sungsang kembali ke posisi normal.

Setelah lahir, asupan gizi bagi bayi juga harus dijaga tetap baik. Idealnya, anak mendapatkan ASI secara eksklusif sampai usia 4 – 6 bulan. Jenis makanan, selain ASI, untuk bayi dan anak balita sebaiknya dibuat dari bahan makanan pokok (nasi, roti, kentang, dll.), lauk pauk, bebuahan, air minum, dan susu sebagai sumber protein dan energi. Jangan lupa, bahan makanan harus diolah sesuai tahap perkembangan dari lumat, lembek, selanjutnya padat. Secara keseluruhan asupan makanan sehari harus mengandung 10 – 15% kalori dari protein, 20 – 35 % dari lemak, dan 40 – 60% dari karbohidrat.

Menu seimbang diberikan sesuai kebutuhan dan tidak berlebihan. Sejak awal balita, jika memungkinkan, anak diberi susu sebanyak 500 ml. Namun, jika ASI cukup, susu pengganti tidak perlu diberikan hingga usia dua tahun.

Perhatian juga mesti diberikan terhadap jadwal pemberian makanan. Makan besar tiga kali (sarapan, makan siang, dan malam), makan selingan (makan kecil) dua kali yang diberikan di antara dua waktu makan besar, air minum diberikan setelah makan dan ketika anak merasa haus, serta susu diberikan dua kali, yakni pagi dan menjelang tidur malam.

Untuk mengetahui kecukupan gizi pada anak ada dua cara yang bisa digunakan. Pertama cara subjektif, yakni mengamati respon anak terhadap pemberian makanan. Makanan dinilai cukup jika anak tampak puas, tidur nyenyak, aktifitas baik, lincah, dan gembira. Anak cukup gizi biasanya tidak pucat, tidak lembek, dan tidak ada tanda-tanda gangguan kesehatan.

Cara kedua adalah dengan pemantauan pertumbuhan secara berkala. Cara ini dilakukan dengan mengukur bobot dan tinggi anak, dilengkapi dengan mengukur lingkar kepala pada anak sampai usia 3 tahun. Hasil pengukuran dibandingkan dengan data baku untuk anak sebaya. Jika ditemukan tanda-tanda kurang sehat, seperti pucat atau rambut tipis dan kemerahan, anak perlu diperiksa secara medis. Ada baiknya juga dilakukan pemeriksaan psikologis, terutama bila ada kemunduran prestasi belajar.

Tempat Tinggal dan Cerita

Selain faktor gizi dan perawatan, apa yang dilihat, didengar, dan dipelajari anak, sejak dalam kandungan sampai usia lima tahun, sangat menentukan intelegensia dasar untuk masa dewasanya kelak. Setelah usianya melewati lima tahun, secara potensial IQ-nya telah tetap. Dengan begitu, masa itulah merupakan kesempatan emas bagi kita untuk memacu tingkat kecerdasan anak.

Menurut Jean Piaget, psikolog dari Swis, semakin banyak hal baru yang dilihat dan didengar, si anak akan semakin ingin melihat dan mendengar segala sesuatu yang ada dan terjadi di lingkungannya. Karenanya disarankan agar orang tua memperkaya lingkungan tempat tinggal (kamar tidur atau kamar bermain) bayi dengan warna dan bunyi-bunyian yang merangsang. Umpamanya, gambar-gambar binatang atau bunga, musik, kicauan burung, dsb. Semuanya mesti tidak menimbulkan ketakutan dan kegaduhan pada anak.

Para pakar juga yakin lingkungan verbal bagi anak juga tak kalah pentingnya. Bahasa yang didengarkan anak bisa meningkatkan atau menghambat kemampuan dasar berpikirnya. Penelitian hal ini dilakukan psikolog Rusia. Ia membayar para ibu keluarga miskin untuk membacakan cerita dengan suara keras untuk bayi mereka masing-masing selama 15 – 20 menit setiap hari. Menjelang berusia 1,5 tahun, bayi menjalani pengukuran. Hasilnya, bayi-bayi itu memiliki kemampuan berbahasa yang lebih baik ketimbang bayi-bayi seusianya di daerah yang sama.

Penelitian lain dilakukan di sebuah sekolah perawat di New York, AS, terhadap dua kelompok anak usia tiga tahun. Masing-masing anak diperlakukan secara berbeda. Kelompok pertama diberi pelajaran berbahasa selama 15 menit setiap hari. Kelompok kedua diberi perhatian khusus juga selama 15 menit tanpa pelajaran bahasa. Setelah 4 bulan ternyata kelompok pertama mendapatkan kenaikan intelegensia rata-rata sebesar 14 angka. Sedangkan kelompok kedua kenaikan rata-ratanya cuma 2 angka.

Nah, untuk mendapatkan anak cerdas ternyata gampang. Cuma dengan memberi makanan sehat, perawatan baik, dan lingkungan psikologis yang mendukung sejak dalam kandung hingga usia lima tahun, besar kemungkinan harapan kita akan tercapai.
sumber: Khamid Wijaya/dr. Audrey Luize/M. Harli/Masitoh

Untuk mendukung perkembangan otak janin, tidak cukup hanya diberi nutrisi saja. Mengelus-elus perut ibu hamil juga bisa memicu perkembangan otak janin.

“Stimulasi ini seperti dengan mengusap-usap perut ibu hamil dan mengajak bicara janin. Dengan sering melakukan stimulasi seperti itu, maka jaringan sinaptogenesis atau hubungan antar syaraf semakin banyak,” kata dokter spesialis anak Dr Attila Dewanti Sp.A.Attila mengatakan, mengusap perut dan mengajak bicara janin juga bisa meningkatkan hubungan bapak-ibu dengan anaknya. Selain itu juga bisa mematangkan emosi anak, sehingga ketika dewasa tidak mudah depresi.

Menurut dia, faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan otak ada 3 yaitu, genetik, nutrisi dan lingkungan. Nutrisi yang diperlukan untuk perkembangan otak janin antara lain protein, karbohidrat, vitamin, mineral, serta AA dan DHA untuk perkembangan otak dan retina mata.

Untuk faktor genetik, orangtua yang cerdas, kemungkinan besar akan memiliki anak yang cerdas pula. Sebab dari faktor genetik ini, sekitar 50-60 persen yang diturunkan.

Sedangkan faktor lingkungan salah satunya adalah mengelus perut dan mengajak bicara janin.





Tingkah laku anak cermin sifat orangtua

9 12 2009

Lingkungan sangat mempengaruhi tingkah laku anak.Mulai dari orangtua,eyang,pengasuh,serta orang-orang disekitarnya. Jika tidak berhati-hati dalam mengasuh anak,anak akan mendapatkan contoh tingkah laku yang buruk untuk dirinya. Tutur kata yang halus ketika kita mengajak anak berbicara membuat anak meniru bertuturkata halus,tetapi bila sebaliknya maka anak akan terbiasa berkata kasar dan tidak sopan seperti yang telah ia tiru. Orangtua sangat berperan penting dalam hal ini. Orangtua harus pandai-pandai mengendalikan emosi ketika anak rewel,memberikannya ketenangan ketika anak berada diantara orangtuanya. Maka akan tercipta hubungan orangtua dan anak yang sangat erat.Dengan demikian anak akan merasa aman berada dekat dengan orangtuanya,bahagia,periang,tumbuh menjadi anak yang cerdas dan berbakat.Sebab bila kasihsayang yang dibutuhkan anak terpenuhi maka anak akan menjalani hidupnya dengan bahagia, tidak berpikir stres. Sehingga perkembangan anak menjadi cepat dan tidak ada hambatan.Jika sang ayah memberikan contoh yang baik bagi anak-anaknya. Anak mudah sekali meniru apa yang dia lihat dan menjadikan lingkungan sebagai model kehidupan. Mulai dari ucapan, misalnya kata-kata yang mudah untuk diikuti. Atau, tingkah laku yang dilihat dari tontonan film.

Orangtua pada umumnya menjadi model utama bagi anak. Karena ayah dan ibu adalah dua orang yang berperan dalam pola asuh anak sejak dia hadir ke dunia. Maka, jangan kaget bila cara saat orangtua marah maupun saat menunjukkan kasih sayang, semua akan ditiru dan dipelajari anak.Contoh yang baik, akan lebih melekat pada anak bila diiringi dengan penjelasan. Apa manfaatnya senang membaca buku, apa keuntungannya berjamaah di masjid dan sebagainya.
Dengan begitu, anak secara perlahan mulai mengerti tentang pentingnya melakukan perbuatan-perbuatan itu. Sehingga yang diharapkan adalah anak melakukan perilaku tersebut secara sadar dan menyenanginya, bukan karena paksaan.

mengawasi tingkahlaku anak





Agar anak usia dini Percaya Diri

14 08 2009

anak percaya diri anak yang percaya diri

Kebiasaan orangtua membentak anaknya ketika anaknya berbuat nakal akan membuat anak takut untuk kembali beraktivitas serupa. Anak akan cenderung penakut, tidak mempunyai rasa percaya diri.
Anak-anak yang tidak mandiri akan memberi pengaruh negatif terhadap perkembangan kepribadiannya sendiri. Apabila hal ini tidak segera diatasi, anak akan mengalami kesulitan pada perkembangan selanjutnya. Anak akan mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Terlebih, anak yang tidak mandiri juga akan menyusahkan orang lain.

Anak-anak yang tidak mandiri cenderung tidak percaya diri dan tidak mampu mengambil keputusan dengan baik. Sedangkan bentuk ketergantungan kepada orang lain dapat berupa; misalnya mulai dari persiapan berangkat sekolah, ketika di lingkungan sekolah, mengerjakan pekerjaan rumah, sampai dalam pola belajarnya. Dalam persiapan berangkat sekolah, misalnya, anak selalu ingin dimandikan orang lain, dibantu berpakaian, minta disuapi, disiapkan buku dan peralatan sekolah oleh orang lain, termasuk harus selalu diantar ke sekolah. Ketika belajar di rumah, mereka mungkin mau, asalkan semua dilayani; misalnya anak akan menyuruh orang lain untuk mengambilkan pensil, buku, serutan dan sebagainya.

Beberapa hal umum yang perlu dihindari agar proses menuju kemandirian anak dapat berlangsung sesuai yang kita harapkan adalah:

Kekhawatiran yang berlebihan terhadap anak.

Saat anak ingin memegang gelas, sendok, atau peralatan makan, sebenarnya sudah menjadi petunjuk gejala mandiri. Sayangnya, orangtua atau pengasuh kadangkala suka melarang anak melakukan hal tersebut. Banyak alasan atas larangan itu, misalnya, karena khawatir benda yang dipegang anak akan jatuh. Tanpa disadari, larangan itu justru menghambat kesempatan anak untuk belajar mandiri.

Overprotective. Tak sedikit orangtua yang takut bila anaknya yang berusia batita melakukan hal-hal tertentu. Saat anak ingin naik-turun tangga sendiri, kerap tidak diperbolehkan, bahkan langsung digendong. Akibatnya, anak jadi penakut dan tak mampu mengontrol diri sendiri. Tak ada salahnya memperbolehkan anak naik-turun tangga sendiri, tentunya dengan diawasi dan dijaga oleh orangtua maupun pengasuhnya. Setiap anak mampu mengukur, seberapa jauh ia dapat mengontrol diri sendiri. Saat berada di ketinggian tertentu, anak mempunyai insting dasar untuk bertahan dan tidak melompat. Biarkan anak melakukan hal yang diinginkannya, tetapi tetap harus diawasi.

Kasih sayang yang berlebihan. Apapun keinginan anak dipenuhi dan dilayani. Curahan kasih sayang dengan menjadikan anak sebagai tuan kecil dalam rumah merupakan penyebab anak menjadi tidak mandiri dan manja. Tetapi, tidak ada kata terlambat untuk melatih anak menjadi mandiri. Asalkan ada kesempatan bagi anak untuk menunjukkan perilaku mandirinya. Hanya saja, akan semakin sulit manakala usia anak makin bertambah karena sebelumnya anak selalu bergantung pada orangtua dan pengasuhnya. Anak akan menuntut untuk terus dilayani, diperhatikan, hingga akhirnya sulit diubah.

Membuat peraturan yang tegas dan konsekuen memang sulit karena setiap anak yang berbeda usia pasti mempunyai karakter yang berbeda. Saat berada di mal, kebanyakan anak balita akan meronta – ronta ingin keluar dari kereta dorongnya. Namun, masih saja kita temukan seorang anak berusia 4 tahun yang masih memeluk selimut kesayangannya dan membawanya kemanapun ia pergi. Selama tingkat kebebasan yang kita berikan sesuai dengan usia, situasi, dan keamanan, hal itu tidak akan menjadi masalah.

1.

ips – tips berikut berguna untuk memastikan agar kemandirian anak dapat tercapai dengan mudah, bagi anak maupun orang tua.

Mainan Kesayangan

Kita mungkin menyukai benda-benda kesayangan si kecil. Tetapi sesungguhnya benda itu dapat menjadi pengganggu sekaligus penyelamat ketika si kecil rewel dalam perjalanan. Kita mungkin tidak pernah memahami mengapa si kecil amat menyayangi benda-benda tersebut, tetapi kita dapat mencoba. Michelle menyarankan kita untuk meninjau kembali alasan kita saat berusaha memisahkan si kecil dari benda kesayangannya. Apakah kita melakukannya untuk kebaikan si kecil atau karena kita merasa tidak nyaman atas kehadiran benda tersebut?

Jika bisa, sebaiknya kita mencari tahu apa yang membuat suatu mainan begitu menarik hati anak kita. Michelle menyatakan bahwa kita pasti telah mempunyai terkaan-terkaan alasan si kecil begitu menyayangi benda kesayangannya. Tapi itu belum tentu benar! Beberapa anak tidak dapat menjelaskan daya tarik benda kesayangan mereka. Namun, jika dapat diketahui alasan mereka, mungkin kita dapat mencari penggantinya dan bisa mengakhiri ketergantungannya.

Kita hanya akan memperburuk keadaan bila memaksa anak menyerahkan benda kesayangannya. Apabila kita memang memutuskan untuk mengambil benda kesayangannya, Michelle menyarankan kita untuk berhati-hati. Menurut Michelle sebaiknya kita membuat batasan – batasan yang realistis kapan dan dimana anak itu boleh atau tidak boleh membawa benda tersebut. Dan jangan lupa untuk meyakinkan anak bahwa benda kesayangannya akan aman di tempat semestinya dan akan tetap berada di sana hingga ia pulang.

Botol Susu

Anak-anak yang masih ‘ngedot’ pada usia di atas dua tahun kemungkinan hanya menggunakannya sebagai pemberi rasa nyaman daripada sebagai sumber nutrisi. Sangatlah sulit meminta anak menghentikan kebiasaan itu karena botol susu sudah menjadi benda kesayangan dan suatu kebiasaan. Kita pasti telah berusaha menggunakan berbagai cara untuk mengatasinya. Namun cara apapun yang kita gunakan pasti akan memakan waktu. Michelle mengingatkan kita seperti perkataan para ahli bahwa ‘ngedot’ terlalu lama dapat merusak bentuk mulut dan gigi anak terutama pada usia 3 atau 4 tahun.

Jika memungkinkan, Michelle menyarankan kita untuk mencoba minta si kecil berhenti minum susu dari botol sejak usia dini (1-2 tahun). Anak berusia satu tahun sudah dapat memegang gelas kecil tertutup, bahkan beberapa anak sudah mulai bisa minum dengan cara menyedot. Banyak pengalaman orang tua yang berhasil menggunakan sedotan sebagai alternatif yang mengasyikkan bagi si kecil. Karena setelah si kecil berhasil menggunakan sedotan itu, ia jadi bisa mulai meninggalkan botol susunya.

Jika anak telah berusia sekitar 2-4 tahun, anda dapat menggunakan cara penjelasan langsung bahwa ia sudah semakin besar dan sudah waktunya ia minum dari gelas seperti ayah dan ibunya. Beberapa akan mengerti, tetapi beberapa pasti menolak. Apabila ia menolak cobalah gunakan cara barter. Tanya pada anak anda benda lain yang ia inginkan untuk ditukar dengan botol susunya.

Mengerjakan Sendiri

Bayi lucu kita tiba-tiba berubah menjadi balita sok tahu. Walaupun ingin mendorong si kecil untuk mandiri, kita tidak bisa mengabaikan hal-hal tertentu yang masih belum bisa ia lakukan. Michelle menguraikan pertanyaan terbesar dalam masalah ini. Yakni bagaimana kita mendorong kemandirian anak, tetapi tetap menegaskan peran sebagai orang tuanya? Inilah waktu yang tepat untuk menanamkan rasa percaya diri pada anak. Michelle menyarankan kita unuk menunjukkan bahwa kita yakin akan kemampuannya atau hal-hal yang hampir ia kuasai. Hal ini dapat menjadi persiapan masa sekolah dan sosialisasi dengan teman sebayanya.

Untuk anak usia 1-4 tahun, sebaiknya jangan ditolong setiap saat. Memang kadang kita merasa tidak tahan untuk segera membantunya. Tapi Michelle menguraikan penjelasannya bahwa sebaiknya kita membiarkannya namun tetap memberitahunya bahwa kita selalu ada ketika ia butuh bantuan. Hal penting yang perlu diingat ketika kita membiarkan anak mencoba melakukan suatu hal adalah jangan sampai kita marah atau mengatakan kepadanya bahwa yang ia lakukan itu salah ketika anak kita gagal melakukan sesuatu itu sendiri. Misalnya ia menumpahkan gelas ketika ia menuang minuman ke gelas. Kita harus senantiasa menghargai kemandiriannya. Kesalahan adalah pelajaran berharga bagi anak untuk meningkatkan rasa percaya dirinya. Michelle menegaskan agar kita tidak menggunakan kalimat yang memojokkan perasaan anak. Namun sebaiknya kita menggunakan kalimat yang terdengar seperti saran atau alternative lain bagi anak. Dengan demikian, rasa percaya dirinya tidak akan luntur dan ia akan memahami bahwa kadang-kadang melakukan kesalahan adalah hal biasa.

Sekolah

Saat pertama kali masuk sekolah dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan atau yang menakutkan, baik bagi orang tua maupun anak. Apalagi ketika sampai di sekolah ia berteriak dan menangis sambil memanggil-manggil kita saat kita meninggalkannya. Michelle menyarankan kita untuk menjelaskan terlebih dulu pada si kecil mengenai hal-hal yang akan terjadi agar ia mengetahui seperti apa sekolah itu. Jelaskan dengan rinci apa yang akan ia lakukan sepanjang hari di Kelompok Bermain atau Taman Kanak-Kanak. Kita juga bisa menjelaskan hal-hal seperti makan, minum, beristirahat, dan buang air agar si kecil mengerti bahwa kebutuhan dasarnya dapat dilakukan di sana.

Michelle juga memberikan tips – tips lain seperti membawa si kecil datang lebih awal ketika pertama kali ke sekolah. Sehingga kita tidak terburu-buru meninggalkannya dan dapat meluangkan waktu sejenak untuk memberikan informasi penting mengenai anak kita kepada guru-gurunya. Berilah batas waktu pada anak kapan kita akan meninggalkannya. Misalnya ketika bel telah berbunyi.

Selain yang telah diuraikan di atas, juga banyak permasalahan-permasalahn lain yang di uraikan oleh Michelle dalam buku ini. Seperti empeng, menghisap jempol, di luar rumah, hari libur bagi ibu dan apron-string syndrome. Dalam buku ini, kita orang tua, di ingatkan untuk senantiasa sabar dan ingat bahwa suatu hari nanti, anak kita akan terlepas dari kita dan harus mandiri. Jadi, nikmatilah kemanjaan anak kita selagi bisa. Dan dapat sukses melaksanakan tujuan utama kita membesarkan anak, yakni mepersiapkan dia untuk mandiri ketika ia hidup sendiri jauh dari orangtua kelak.





Mengajarkan anak usia dini mandiri

14 08 2009

Anak usia 0-6 tahun perilaku dan perkembangannya sangat dipengaruhi oleh faktor intern yaitu orangtuanya.
Saat anak berusia tiga-empat bulan sebenarnya sudah dapat diajarkan untuk mandiri. Ini dapat dilakukan dengan membiarkannya berlatih tengkurap. Dengan tidak membantu melakukan hal tersebut, tapi hanya menyemangati dan berikan applaus saat anak berhasil dapat membentuk kemandirian anak.

Pada usia enam-tujuh bulan saat anak belajar duduk pun kemandirian tetap harus diterapkan. Bahkan hingga anak beranjak besar pada usia 11-12 bulan di mana dia telah ada pada tahap belajar jalan, tetap harus diajarkan mandiri dengan usahanya sendiri.

“Saat dia belajar berjalan, taruh mainan di depannya lalu biarkan anak untuk berusaha mengambilnya sendiri. Tak hanya sebatas itu saja, mengajarkan kemandirian pada anak efektif dilakukan saat dia makan. Dengan membiarkannya makan sendiri, meski berantakan, akan menuntutnya untuk senantiasa mandiri.

Orangtua memberikan kebebasan yang bertanggungjawab kepada anaknya. Contohnya ketika anak disuruh memilih antara makan sendiri atau disuapin, anak memilih makan sendiri dimeja makan bersama kedua orangtuanya. maka anak akan menirukan perilaku makan kedua orangtuanya. Dengan demikian mereka menjadi anak yang mandiri sejak usia dini. Dengan kemandirian, anak akan lebih mudah distimulasikan perkembangan aspek-aspek kecerdasan lainnya (multiple intelligences).

Seperti yang dikatakan Glenn Doman, seorang ahli perkembangan anak, perkembangan otak manusia paling pesat terjadi pada usia 0 sampai 7 tahun dan bisa dicapai secara optimal apabila diberi stimulasi yang tepat.

Oleh karena itu, orangtua sebaiknya mengajak si anak untuk mengikuti program Kelompok Bermain (Playgroup) sejak anak berusia 2 tahun. Pendidikan prasekolah (Playgroup dan TK) dianggap penting karena memberikan fondasi yang kuat untuk jenjang pendidikan selanjutnya.

Berikut, beberapa pertimbangan praktis dalam memilih pendidikan prasekolah yang tepat:

1. Rancangan Program
Program yang diterapkan harus terarah dan sesuai dengan kelompok usia anak sehingga dapat mengoptimalkan perkembangan anak secara fisik (physical development), perkembangan intelektual (intellectual development), perkembangan sosial-emosional (social-emotional development) maupun optimalisasi kemampuan anak dalam berkomunikasi untuk mengekspresikan keinginannya (language development). Pada usia prasekolah, tingkat perkembangan masing-masing anak berbeda. Keempat perkembangan dasar tersebut harus distimulasikan secara seimbang dalam bentuk kegiatan “belajar sambil bermain” dalam proses yang komunikatif dan penuh kasih sayang, sehingga anak-anak merasa betah di sekolah.
Program prasekolah akan makin lengkap jika ada program kunjungan (excursion) ke tempat-tempat yang menarik, seperti pengenalan alam dan binatang. Hal ini penting untuk menambah wawasan dan mengembangkan imajinasi anak.

2. Rancangan Aktivitas
Dalam usia prasekolah, anak-anak umumnya cepat bosan pada aktivitas yang diberikan. Aktivitas sebaiknya dirancang bervariasi dalam bentuk indoor activities (di dalam ruangan) dan outdoor activities (di luar ruangan). Aktivitas di dalam ruangan difokuskan untuk melatih konsentrasi, menstimulasi daya imajinasi dan menumbuhkan kreativitas serta logika berpikir anak. Selain itu, indoor activities bermanfaat untuk melatih disiplin anak dalam kebiasaan sehari-hari, seperti membiasakan merapikan mainannya sendiri, makan sendiri, mengangkat piring makannya ke trolley yang telah disediakan (dikenal dengan pendekatan Montessori).
Aktivitas di luar ruangan difokuskan untuk optimalisasi perkembangan fisik dan sosial-emosional anak, seperti berlari, bermain ayunan, perosotan, bermain pasir, melatih anak untuk bersosialisasi dengan sesamanya, dan bermain air di kolam renang yang juga merupakan aktivitas yang sangat digemari anak. Suasana yang nyaman dan menyenangkan akan membuat anak-anak tidak cepat bosan dalam meniti hari-harinya bermain sambil belajar di sekolah.

3. Fasilitas dan Alat Bantu Bermain
Perhatikan fasilitas yang dimiliki, seperti gedung sekolah, ruang kelas, sarana dan prasarana yang mendukung aktivitas anak. Pada usia prasekolah, merupakan saat anak-anak mulai menunjukkan kebolehannya melakukan sesuatu yang diinginkan. Keseimbangan fisik anak belum stabil, sehingga sering terjadi anak-anak terjatuh atau terpeleset saat bermain. Oleh karena itu, kegiatan prasekolah tidak dilakukan di gedung bertingkat untuk mengurangi risiko terjatuh di tangga yang dapat berakibat fatal terhadap perkembangan fisiknya. Bahkan dapat mengakibatkan cedera otak yang dampaknya akan terlihat dalam jangka panjang.
Anak-anak memerlukan ruang gerak yang leluasa saat bermain di luar ruangan. Yakinkan, apakah sekolah memiliki halaman bermain yang cukup luas untuk aktivitas di luar ruangan? Perhatikan juga alat bantu bermain yang digunakan, dari segi ukuran harus sesuai dengan usia anak dan aman dari segi kesehatan dan keselamatan anak. Misalnya (i) ukuran mainan tidak terlalu kecil untuk usia bayi dan toddlers (usia di bawah 2 tahun) karena akan sangat berbahaya apabila tertelan, dan (ii) bahan-bahan seperti krayon dan plastisin tidak boleh mengandung bahan pewarna toxic yang berbahaya bagi kesehatan karena ada kemungkinan dimakan mereka.

4. Rasio Jumlah Anak dan Guru
Rasio jumlah anak dan guru/pengasuh penting diperhatikan, karena berpengaruh terhadap kualitas pengasuhan dan pendidikan. Untuk program pengasuhan bayi usia di bawah 1 tahun (nursery), perbandingan ideal adalah seorang pengasuh mengasuh seorang bayi (1:1); program toddlers (1-2 tahun) perbandingannya seorang pengasuh mengasuh 4 anak (1:4); program playgroup (3-4 tahun) seorang pengasuh untuk 8 anak (1:8); program TK, idealnya seorang guru membina 10 anak (1:10).
Karakter pengasuh juga amat menentukan keberhasilan program ini. Karena itu, pengasuh hendaknya sabar dan mampu memerankan diri sebagai orangtua siswa, sehingga anak-anak merasa nyaman dan terlindungi.

5. Lamanya Waktu di Sekolah
Pengalaman menunjukkan, makin pendek waktu sekolah dan/atau makin jarang anak-anak mengikuti program dalam seminggu, makin stres mereka dalam mengikuti program prasekolah. Ini terjadi karena faktor psikologis, yakni anak harus melakukan proses adaptasi dengan lingkungan sekolahnya. Misalnya: (i) jika program prasekolah hanya dilaksanakan 2 jam sehari, maka pada saat naluri keberanian anak mulai muncul, ternyata anak sudah harus pulang karena bel tanda pulang sudah berbunyi; dan (ii) jika program prasekolah yang hanya 3 kali seminggu menyebabkan anak harus mengulangi proses adaptasinya tiap kali datang ke sekolah karena kemarinnya mereka libur.
Kedua hal tersebut akan menghambat kemandirian anak sehingga kelihatannya tidak ada kemajuan. Karena itu, pilihlah lembaga pendidikan prasekolah yang memiliki program dengan jumlah kehadiran di sekolah lebih rutin dan waktu di sekolah yang lebih panjang, dengan syarat suasana harus nyaman dan menyenangkan dengan berbagai pilihan program menarik.

6. Pemeriksaan Kesehatan
Kesehatan sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak. Carilah kejelasan apakah prasekolah yang dipilih menyediakan fasilitas pemeriksaan kesehatan secara rutin oleh tenaga medis (dokter).

7. Pengelolaan
Sukses tidaknya sebuah kegiatan sangat ditentukan kemampuan manajerial pengelolanya. Pengelola prasekolah harus memiliki pengetahuan memadai tentang pendidikan prasekolah dan juga memiliki talenta sebagai figur yang disenangi anak-anak. Carilah informasi tentang pengelola prasekolah yang diinginkan. Apakah memiliki latar belakang pendidikan prasekolah dan komitmen yang kuat kepada dunia pendidikan? Apakah pengawasan dilakukan secara langsung oleh pihak pengelola?

anak mandiri anak makan sendiri





Keharmonisan Rumah tangga kunci sukses untuk mendidik anak

6 07 2009

Anak akan mendapatkan pendidikan dan arahan yang sempurna dari orangtua jika kehidupan rumah tangga kedua orangtuanya baik-baik saja. Suasana kehidupan rumah tangga yang harmonis akan menciptakan rasa kasih sayang yang sepenuhnya untuk si buah hati. Sebaliknya keluarga yang selalu cekcok,tidak ada kepercayaan satu sama lain,kehidupan bersama yang dipaksakan,tidak memiliki komitmen hidup bersama,dll. Seperti contoh masing-masing dahulu mempunyai masalalu, karena keduanya memutuskan untuk menikah maka tentunya keduanya harus menerima pasangan masing-masing dengan apa adanya.Bukannya malah membalas kelakuan salah satu pasangan ketika istri telah mengatakan yang sejujurnya tentang masa lalunya yang kelam begitu pula dengan masalalu suami yang sama. Kemudian suami membalas dengan selingkuh sana-sini. Hal ini akan membuat kehidupan rumah tangganya hancur.Bukannya masa depan lebih penting dari pada memikirkan masa lalu yang hanya membuat pusing,tidak berkembang,anak terbengkelai?

Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan dalam terbinanya rumah tangga yang harmonis :
1. Komunikasi intesif dengan anggota keluarga. Jangan hanya antara suami istri saja, komunikasi yang erat dan intim juga diperlukan untuk semua anggota keluarga bahkan anggota keluarga dari kedua belah pihak.
2. Jujur dan Terbuka. Kejujuran terkadang menyakitkan namun dengan jujur apapun itu masalahnya dapat didiskusikan untk mencari jalan keluar terbaik.
3. Hilangkan prasangka buruk. Dalam otak bawah sadar manusia seringkali dipenuhi dengan prasangka-prasangka buruk terhadap orang lain. Prasangka buruk yang menguat akan menjadi keyakinan dan sangat buruk dampaknya terdapat hubungan terhadap suami-istri dalam keluarga. Sebaliknya ketika seseorang berprasangka baik yang terbentuk adalah kekuatan dasyat untuk menguatkan hubungan harmonis dalam keluarga.
4. Buatlah komitmen jangka panjang. Dengan berkomitmen maka tujuan awal dapat tercapai dengan kekuatan baik dari istri maupun suami.
5. Saling memberi hadiah pada momen khusus. Anda pasti merasa bahagia apabila pasangan memberikan hadiah pada momen istimewa, hari ulang tahun, ulang tahun perkawinan, promosi dan seterusnya. Hadiah adalah wujud apresiasi terhadap pasangannya dan menjadi penghargaan bagi pasangan.
6. Berubah untuk jadi lebih baik. Tidak perlu menunggu pasangan merubah dirinya menjadi lebih baik. Mulailah dari diri sendiri. Dengan bertekad merubah kelakuan buruk diri sendiri maka pasangan juga lambat laun akan merubah kelakuan buruknya karena melihat tekad Anda mempertahan rumah tangga.

keluarga harmonis didik anak maksimal





Anak berbakat yang butuh arahan

1 07 2009

Bakat anak akan muncul setelah anak usia 1 tahun. Ini terlihat dari tingkah laku anak,kemauan anak beraktivitas sesuai bakatnya.Anda belum memiliki gambaran apa bakat anak anda, segera cari tahu. Mengenali bakat anak memang butuh kecermatan. Jangan juga bakat disamakan dengan pintar. Berbakat berarti memiliki potensi, sedangkan kepintaran didapat dari ketekunan mempelajari sesuatu. Dan hasilnyapun akan berbeda, ketekunan yang tidak dibekali bakat tentu hasilnya tidak sebaik jika ketekunan iti disertai dengan bakat.Dua sampai sepuluh persen anak-anak berbakat saat ini cenderung mengalami kesulitan belajar sehingga memerlukan perhatian dan penanganan khusus. biasanya, anak berbakat yang tanpa punya prestasi sesuai potensinya kerap berperilaku rendah diri, mereka seringkali bersikap negatif terhadap sekolah atau gurunya, bersikap selalu defensif, suka menyalahkan orang lain, kedewasaan yang tidak matang, serta punya kebiasaan belajar kurang baik. Sehingga sangat diperlukan komunikasi antara orangtua dan sekolah atau gurunya, sehingga memungkinkan munculnya harapan untuk memperbaiki penyimpangan tersebut, si anak berbakat pun bisa menjadi anak yang sukses di sekolah sesuai potensinya di kemudian hari.





Pola asuh anak usia dini otoriter

30 06 2009

Pola asuh orangtua terhadap anaknya secara Otoriter tidak mutlak benar.Karena Tak sabar dengan kenakalan si buah hati, banyak orangtua menggunakan cara kekerasan untuk menanganinya. Dalam jangka pendek, cara ini efektif, tetapi efek jangka panjangnya anak akan menjadi kasar.
Si kecil Boni 5 th, menangis di depan pintu rumahnya. Air matanya mengalir seakan tanpa henti. Sesekali dia memanggil ibu dan ayahnya agar membukakan pintu untuknya. Namun, suaranya tidak digubris sama sekali. Hampir satu jam Boni berdiri, setelah kemudian pintu rumahnya terbuka. Sang ayah menyuruhnya masuk. Namun, tetap dengan wajah garang yang masih menyisakan kemarahan.

Apa yang dilakukan Boni sehingga orangtuanya sangat marah? Ternyata Boni bermain bola di dalam rumah, hingga memecahkan keramik kesayangan ibunya. Akhirnya Boni mendapat sebuah pukulan dan dibiarkan diam di depan pintu rumah selama lebih dari satu jam.
Sebagai orangtua, marah kepada anak memang merupakan hal yang lumrah. Namun, jika telah disertai dengan pemukulan, apalagi sering dilakukan, akan berdampak buruk pada perkembangan mental anak dan akan membekas hingga mereka dewasa nanti. Di Indonesia, memukul atau melakukan kekerasan fisik kepada anak yang berbuat salah, masih dianggap wajar dan normal-normal saja.Padahal menghukum anak bisa dilakukan dengan cara lain, misalnya dengan memotong uang saku,tidak diperbolehkan main game atau melarang mereka bermain dengan teman-temannya.Walaupun masih anak-anak, jika dipukul anak, akan merasa harga dirinya terlukai. Apalagi jika sering dipukul, anak akan tumbuh menjadi sosok yang cenderung pendiam.Tetapi ketika dia disekolahkan, anak cenderung akan menunjukkan siapa dirinya sesungguhnya yang ingin diperhatikan tetapi dengan cara menonjolkan kenakalannya,memukul temannya,sehingga teman-temannya takut bermain dengannya.Ini artinya anak tidak mau diperlakukan sama ketika dia berada di rumah.

Setelah memberikan peringatan tentang kapan harus dimulai pekerjaannya, berikan petunjuk tegas, jika ia mematuhi perintah, pujilah. Jika tidak mematuhi, ulangi petunjuk yang sama. Jika diberikan petunjuk yang sama pun anak tidak mematuhi, acuhkan dulu sementara, dan tunggulah. Jika selama didiamkan dia mulai mengerjakan, segera berikan pujian. Jika selama didiamkan dia tidak mengerjakan, lakukan langkah berikutnya, yaitu menyetrap atau dikenal dengan istilah time out.

Time out adalah hukuman yang bisa diterapkan pada usia 3 tahun sampai usia kelas rendah SD, pada jangka waktu tertentu, anak harus berada di tempat tertentu. Diberlakukan saat anak melakukan hal yang sulit dimaafkan. Jangka waktu tertentu itu yakni secara umum, sama dengan usia anak. Misalnya pada usia 3 tahun, 3 menit. Usia 5 tahun,5 menit.

“Pasanglah timer di ruang time out. Jika anak berhasil melaluinya, jangan sungkan-sungkan memuji,” tutur psikolog berjilbab tersebut.

Lebih lanjut ditambahkannya, anak-anak sebenarnya adalah jiwa yang juga memiliki naluri untuk melakukan sesuatu dengan benar, baik dan sesuai dengan apa yang diharapkan orangtua. Namun, cara orangtua yang salah dalam menerapkan pendidikan di rumah, terkadang membuat anak tidak terkendali. “Ketegasan kadang sangat dibutuhkan. Orangtua boleh tegas pada anak asalkan jangan memukul,” kata dia lagi.Anak-anak yang sering mendapatkan hukuman fisik di rumah, ketika berada di sekolah akan terlihat sangat berbeda dibandingkan dengan anak lain. “Mereka cenderung murung namun bisa agresif bila tersinggung atau ingin mendapatkan benda yang mereka inginkan, mereka juga lebih egois”.

Memang untuk mendidik anak tanpa kekerasan, butuh usaha keras dan harus dilakukan secara benar. Mendidik tanpa kekerasan bukan berarti anak dibiarkan begitu saja bila melakukan kesalahan. Penegakan disiplin sangat penting bagi anak-anak. Malah tak ada pembedaan antara laki-laki dan perempuan. Untuk menegakkan disiplin, pemberian sanksi mutlak diberikan. Hanya saja, pilih cara yang baik dan jangan gunakan kekerasan.

pola asuh otoriter





Pola asuh anak usia dini

30 06 2009

Anak usia dini adalah masa-masa yang butuh perhatian dan kasih sayang total dari kedua orangtuanya.Apabila anak diasuh dengan pola asuh demokratis maka tumbuh kembang anak akan lebih baik. Karena jika pola asuh yang diterapkan orangtua kepada anaknya demokratis anak akan cenderung bebas melakukan aktivitas pembelajaran dalam dirinya tetapi bertanggungjawab akan akibat yang akan diterima kelak,pemberani, mempunyai rasa percaya diri yang tinggi,tidak tergantung kepada orangtuanya karena dia akan mencoba melakukan aktivitasnya sendiri dengan pengawasan orangtuanya yang selalu memberikannya kebebasan beraktivitas tetapi tetap diarahkan orangtuanya,berani mengungkakpkan pendapat,riang gembira,sebaliknya jika pola asuh orangtua kepada anaknya otoriter anak akan cenderung takut untuk melakukan sesuatu untuk perkembangannya yang lebih baik karena apapun aktivitas anak selalu dikekang dan orangtua terlalu takut membebaskan anaknya beraktivitas. Anak akan cenderung penakut, tidak percaya diri, tergantung kepada orangtua,cenderung pendiam,pemurung,tidak mudah tersenyum gembira.Usahakan agar anak menikmati kehangatan kasih sayang dan rasa aman yang cukup ketika berada dalam rumah. Selain itu, jika menghadapi anak yang suka berbohong, orangtua harus introspeksi diri dan harus mengubah cara dalam menjatuhkan hukuman. Bila terlalu keras dan diktator akan membuat anak semakin suka berbohong supaya terhindar dari hukuman.
Beberapa akhli psikologi pendidikan menyampaikan bahwa untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, memulainya harus dari pendidikan anak usia dini, oleh karena itu penting mempelajari pola perkembangan anak.

anak dengan pola asuh demokratis

Kebanyakan waktu anak diisi oleh berbagai kegiatan untuk mengembangkan potensi dirinya, yang cenderung bersifat akademis seperti sekolah, les atau bimbingan belajar. Atau ada juga orangtua yang mengikutsertakan anak ke berbagai les di luar bidang akademis, tapi mungkin tidak sesuai dengan minat anak. Beruntungnya jika orangtua masih bisa sampai rumah pada sore hari. Namun, jika hal itu tidak terjadi, maka jalan satu-satunya adalah dengan melakukan aktivitas pada saat hari libur.
“Maka tidak heran jika banyak anak yang tertekan karena tuntutan orangtua. Padahal yang juga mereka butuhkan adalah bermain.Bermain adalah salah satu cara bagi anak untuk belajar dan merasakan pengalaman yang baru. Bermain akan mengasah kecerdasan mental, fisik, maupun sosial anak dalam memahami nilai-nilai kehidupan.
Biarkan anak memilih permainannya. Bisa dengan permainan yang tidak diarahkan (bebas), di sini anak belajar untuk bernegosiasi, bekerja sama, berbagi dan menyelesaikan konflik. Bisa permainan yang diputuskan sendiri oleh anak, di sini anak belajar untuk memutuskan suatu pilihan, bergerak sesuai “iramanya” sendiri, menentukan minatnya, berperan penuh untuk mencapai tujuannya.Secara fisik pun anak menjadi lebih aktif dan lebih sehat.Disarankan bagi orangtua untuk memberikan permainan yang kreatif jika permainan dilakukan di dalam rumah. Selain itu, sebaiknya bermain pun tidak hanya dilakukan bersama anak saja, juga bersama orangtua. Bila orangtua ikut bermain bersama anak, maka orangtua dapat semakin memahami bagaimana sudut pandang anak terhadap berbagai hal.Anak juga menjadi merasa diperhatikan oleh orangtua, dan ini adalah modal yang tak ternilai dalam meningkatkan kualitas kedekatan orangtua dan anak,” tuturnya.Lewat bermain, orangtua bisa mengembangkan komunikasi yang lebih baik dengan anak, memberikan bimbingan dengan cara yang menyenangkan. Orangtua bisa benar-benar terlibat dengan anak mereka.Bermain bersama orangtua juga dapat menenangkan anak, terutama untuk anak yang sulit beradaptasi.





Apa itu PAUD ?

15 06 2009

PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) dimasa sekarang sangat penting bagi tumbuh kembang anak-anak kita,khususnya di usia 0 sampai dengan 6 tahun. Hal ini sangat penting untuk perkembangan anak khususnya dalam perkembangan perilaku,bakat,pengetahuan. Pada masa-masa usia tersebut anak sangat peka dengan segala sesuatu dilingkungannya. Apabila lingkungan mengajarkan hal yang positif mengarah ke perilaku yang membuat anak terdidik dengan baik, maka anak akan terbentuk baik pila pola pendidikan dan perilakunya.

PendidiPendidikan anak usia dini

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari

Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak usia 0 tahun sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal.

Pendidikan anak usia dini adalah salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio emosional (sikap dan perilaku serta agama) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini.

Ada dua tujuan diselenggarakannya pendidikan anak usia dini yaitu:

* Tujuan utama: untuk membentuk anak Indonesia yang berkualitas, yaitu anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga memiliki kesiapan yang optimal di dalam memasuki pendidikan dasar serta mengarungi kehidupan di masa dewasa.

* Tujuan penyerta: untuk membantu menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar (akademik) di sekolah.

Rentangan anak usia dini menurut Pasal 28 UU Sisdiknas No.20/2003 ayat 1 adalah 0-6 tahun. Sementara menurut kajian rumpun keilmuan PAUD dan penyelenggaraannya di beberapa negara, PAUD dilaksanakan sejak usia 0-8 tahun.

Ruang Lingkup Pendidikan Anak Usia Dini

* Infant (0-1 tahun)

* Toddler (2-3 tahun)

* Preschool/ Kindergarten children (3-6 tahun)

* Early Primary School (SD Kelas Awal) (6-8 tahun)

[sunting] Satuan pendidikan penyelenggara

* Taman Kanak-kanak (TK)

* Raudatul Athfal (RA)

* Bustanul Athfal (BA)

* Kelompok Bermain (KB)

* Taman Penitipan Anak (TPA)

* Satuan PAUD Sejenis (SPS)

* Sekolah Dasar Kelas Awal (kelas 1,2,3)

* Bina Keluarga Balita

* Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu)

* Keluarga

* Lingkungan

[sunting] Lihat pula

* Pendidikan dasar

* Pendidikan menengah

* Pendidikan tinggi

kan anak usia dini

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari

Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal.

Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio emosional (sikap dan perilaku serta agama) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini.

Ada dua tujuan diselenggarakannya pendidikan anak usia dini yaitu:

* Tujuan utama: untuk membentuk anak Indonesia yang berkualitas, yaitu anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga memiliki kesiapan yang optimal di dalam memasuki pendidikan dasar serta mengarungi kehidupan di masa dewasa.

* Tujuan penyerta: untuk membantu menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar (akademik) di sekolah.

Rentangan anak usia dini menurut Pasal 28 UU Sisdiknas No.20/2003 ayat 1 adalah 0-6 tahun. Sementara menurut kajian rumpun keilmuan PAUD dan penyelenggaraannya di beberapa negara, PAUD dilaksanakan sejak usia 0-8 tahun.

Ruang Lingkup Pendidikan Anak Usia Dini

* Infant (0-1 tahun)

* Toddler (2-3 tahun)

* Preschool/ Kindergarten children (3-6 tahun)

* Early Primary School (SD Kelas Awal) (6-8 tahun)

[sunting] Satuan pendidikan penyelenggara

* Taman Kanak-kanak (TK)

* Raudatul Athfal (RA)

* Bustanul Athfal (BA)

* Kelompok Bermain (KB)

* Taman Penitipan Anak (TPA)

* Satuan PAUD Sejenis (SPS)

* Sekolah Dasar Kelas Awal (kelas 1,2,3)

* Bina Keluarga Balita

* Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu)

* Keluarga

* Lingkungan

[sunting] Lihat pula

* Pendidikan dasar

* Pendidikan menengah

* Pendidikan tinggi

Di daerah-daerah masih banyak berfokus pada usia 5-6 tahun atau anak-anak yang bersekolah di Taman Kanak-kanak. Akibatnya, empat tahun pertama di masa emas anak-anak tersebut menjadi kurang diperhatikan, padahal di usia tersebut mereka juga perlu dimaksimalkan potensi dan tumbuh kembangnya.

paudngesti